
“Guru besar adalah pemimpin di era digital. Di tengah disrupsi teknologi, perguruan tinggi harus mampu menghadirkan ruang yang mendorong sivitas akademika terus berinovasi. Forum MGBKGI membuka peluang memperluas kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan berbagai mitra strategis,” kata Prof. Ruslin.
Rangkaian diskusi memperlihatkan bahwa transformasi pendidikan kedokteran gigi tidak cukup bertumpu pada kemajuan teknologi. Penguatan sumber daya manusia, kolaborasi lintas sektor, hilirisasi riset, serta pemerataan akses layanan kesehatan tetap menjadi fondasi utama agar inovasi akademik dapat memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D. Ia mengajak seluruh fakultas kedokteran gigi di Indonesia meninggalkan pola kompetisi yang bersifat eksklusif dan mengedepankan kerja sama.
Rangkaian kongres turut diwarnai peluncuran Ensiklopedia Majelis Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia Edisi Pertama.(*/dhs)





