
Menurutnya, pemahaman terhadap dinamika global penting bagi sivitas akademika untuk memperluas wawasan internasional sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang.
Dalam paparannya, Mr. Adriaan Palm membahas perubahan pola diplomasi internasional sejak era 1990-an. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah mengubah diplomasi yang sebelumnya banyak berlangsung secara tertutup menjadi semakin terbuka dan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan.
“Dahulu diplomasi banyak dilakukan di ruang tertutup. Saat ini, diplomasi berada di ruang publik yang menuntut respons cepat. Namun, kita harus berhati-hati agar pragmatisme tidak mengorbankan penegakan aturan hukum internasional,” jelas Mr. Palm.
Diplomat yang memiliki pengalaman panjang dalam hubungan internasional tersebut juga menekankan perlunya revitalisasi sistem multilateral agar mampu menjembatani perbedaan kepentingan antarnegara.
Ia menilai kerja sama internasional perlu dibangun secara bertahap melalui dialog dan penguatan bidang-bidang yang memiliki kepentingan bersama.
“Kunci menghadapi tantangan ini merupakan upaya membangun jembatan dialog antara belahan dunia Utara dan Selatan serta Barat dan Timur. Kita perlu memperkuat kerja sama pada bidang-bidang kepentingan bersama secara konsisten,” jelasnya.





