
Ia menilai pendekatan komunikasi yang diterapkan Tim DEKOMPAK memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
Menurutnya, kemampuan masyarakat dalam menyampaikan informasi, berinteraksi dengan wisatawan, serta mengelola komunikasi melalui platform digital dapat menjadi modal penting dalam memperkuat daya tarik sebuah destinasi.
“Komunikasi dalam konteks ini tidak berhenti pada penyampaian informasi. Komunikasi juga merupakan bagian dari proses membangun keterlibatan masyarakat agar mereka memiliki kapasitas untuk mengelola dan menyampaikan potensi daerahnya sendiri,” tambah Prof. Tuti.
Dalam proses penggarapan video, Tim DEKOMPAK juga memperoleh pendampingan dari Cahyo Alkantana, pembuat film dokumenter alam sekaligus pelopor ekowisata asal Yogyakarta yang dikenal melalui pengembangan Gua Jomblang.
Pendampingan tersebut membantu tim menerjemahkan rangkaian kegiatan sosial yang dilakukan di Rammang-Rammang ke dalam karya audiovisual yang mampu menggambarkan proses pengabdian sekaligus potensi wisata kawasan tersebut.
Program yang dijalankan Tim DEKOMPAK juga dinilai sejalan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs). Di antaranya SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan kapasitas pelaku wisata dan ekonomi kreatif.





