
SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR — Persoalan pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Makassar mendapat perhatian langsung dari Pemerintah Kota Makassar. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, memanggil manajemen PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) untuk membahas gangguan pasokan listrik tersebut.
Pertemuan digelar di Kantor Balai Kota Makassar, Selasa (1/9/2026), setelah keluhan warga terkait pemadaman mulai bermunculan sejak Senin sore.
Munafri menilai pemadaman dengan durasi cukup panjang tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi memberikan dampak terhadap kegiatan ekonomi dan pelayanan publik.
Menurutnya, rumah tangga, pelaku usaha, hingga berbagai sektor pelayanan membutuhkan pasokan listrik yang stabil. Karena itu, PLN diminta segera mengambil langkah konkret untuk mempercepat pemulihan dan menjaga keandalan sistem kelistrikan di wilayah Makassar.
Dalam pertemuan tersebut, Munafri juga menekankan pentingnya optimalisasi serta diversifikasi sumber energi untuk menjaga ketahanan sistem kelistrikan daerah. Ia meminta PLN memiliki langkah antisipasi yang matang ketika salah satu sumber pembangkit mengalami penurunan kemampuan produksi.
Munafri berpandangan, ketersediaan daya seharusnya masih dapat memiliki cadangan sekitar 30 persen apabila sejumlah unit pembangkit lainnya dapat dioptimalkan dan diintegrasikan ke dalam jaringan.
Pemkot Makassar, kata dia, siap membantu membuka komunikasi dengan unit-unit PLN terkait untuk mencari solusi atas persoalan tersebut. Di sisi lain, ia meminta PLN memberikan informasi yang jelas mengenai jadwal pemeliharaan pembangkit agar masyarakat dapat mempersiapkan diri dan dampak pemadaman bisa ditekan.
Sementara itu, General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, menjelaskan gangguan pasokan listrik di Makassar dan wilayah sekitarnya berkaitan dengan pelaksanaan pemeliharaan berkala pada unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) IPP Jeneponto.
Pemeliharaan dilakukan terhadap salah satu unit pembangkit dengan kapasitas 125 megawatt (MW). Kondisi tersebut kemudian menyebabkan terjadinya defisit daya pada sistem kelistrikan regional Sulselrabar.
Edyansyah memastikan proses pemeliharaan unit berkapasitas 125 MW tersebut ditargetkan selesai paling lambat pada 5 September 2026.
Selain itu, pengelola PLTU Jeneponto juga tengah melakukan pemulihan daya secara bertahap dengan total kapasitas sekitar 300 MW. Tambahan daya tersebut diharapkan dapat membantu memperkuat kembali sistem kelistrikan Sulselrabar dalam waktu dekat.
PLN juga menyebut kondisi sistem kelistrikan secara umum masih berada dalam kendali operasional, meskipun sebelumnya turut menghadapi dampak fenomena cuaca ekstrem yang terjadi sejak pertengahan tahun.
Masyarakat pun diminta tetap tenang dan mendukung proses pemulihan yang sedang dilakukan. PLN berharap proses penormalan jaringan dapat diselesaikan lebih cepat sehingga pasokan listrik kembali stabil dan aktivitas warga dapat berjalan normal. (*)





