
SOLUSIMEDIA.ID, SUNGGUMINASA — Memperingati Dies Natalis ke-70, jajaran pimpinan dan sivitas akademika Universitas Hasanuddin (Unhas) melakukan ziarah ke sejumlah makam tokoh yang memiliki kaitan dengan perjalanan universitas dan sejarah perjuangan Sulawesi Selatan.
Ziarah yang digelar Minggu (6/9/2026) tersebut dimulai sejak pukul 07.00 Wita. Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan ke kompleks pemakaman keluarga besar Unhas di Patte’ne, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros.
Di lokasi tersebut, pimpinan dan sivitas akademika mengenang para pendiri, tokoh, dosen, serta tenaga kependidikan yang telah memberikan kontribusi bagi perkembangan Unhas.
Ketua Panitia Dies Natalis ke-70 Unhas, Prof. Dr. Ir. A. Mujetahid, S.Hut., MP., IPU, mengatakan ziarah makam merupakan tradisi yang terus dipertahankan setiap tahun menjelang peringatan Dies Natalis.
Menurutnya, tradisi tersebut menjadi momentum untuk mengingat kembali jasa para pendahulu yang telah membangun dan mengembangkan Unhas dari masa ke masa.
“Meskipun ini merupakan kegiatan tahunan, Unhas mempertahankan tradisi ini untuk selalu mengenang jasa dan pengabdian para pendahulu kita, baik dosen maupun tenaga kependidikan,” ujar Prof. Mujetahid.
Dari Maros, rombongan kemudian melanjutkan ziarah ke kompleks pemakaman Raja-raja Gowa di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, untuk mengunjungi makam Sultan Hasanuddin.
Rektor Unhas, Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, M.Sc., mengatakan kunjungan tersebut memiliki makna khusus bagi universitas. Nama Universitas Hasanuddin sendiri diambil dari nama Sultan Hasanuddin, salah satu tokoh perjuangan yang memiliki tempat penting dalam sejarah Sulawesi Selatan.
Menurut Prof. Jamaluddin, nilai perjuangan dan keteladanan Sultan Hasanuddin perlu terus dipahami oleh generasi Unhas, bukan sekadar sebagai pengetahuan sejarah, tetapi juga sebagai nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan akademik dan pengabdian kepada masyarakat.
“Saya minta kita memaknai sejarah bukan hanya untuk mengetahui mereka yang sudah mendahului kita, tetapi juga mengingat dan mengimplementasikan setiap perbuatan dan setiap aksi yang dilakukan para pendahulu kita,” katanya.
Untuk memperkuat pemahaman tersebut, Prof. Jamaluddin mendorong penyusunan buku yang mengulas sejarah Sultan Hasanuddin secara lebih lengkap dan mendalam.
Gagasan tersebut mendapat respons dari Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas, Prof. Dr. Andi Muhammad Akhmar, yang menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi proses penyusunan buku tersebut.
Prof. Jamaluddin berharap buku tersebut nantinya dapat menjadi referensi bagi sivitas akademika Unhas, khususnya dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan, untuk memahami perjalanan hidup, perjuangan, serta nilai-nilai yang diwariskan Sultan Hasanuddin.
“Sebagai institusi yang menggunakan nama Sultan Hasanuddin, Unhas memiliki tanggung jawab untuk memahami sejarah perjuangan Sultan Hasanuddin secara lebih utuh dan mendalam,” tegasnya.
Menurutnya, pemahaman sejarah menjadi bagian penting dalam menjaga identitas institusi. Semangat perjuangan para pendahulu diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi Unhas untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Rangkaian ziarah kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Guru Besar Unhas, Prof. Dr. KH. Najamuddin A.S., Lc., MA.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari refleksi Dies Natalis ke-70 Unhas sekaligus pengingat bahwa perjalanan universitas tidak terlepas dari jasa, perjuangan, dan pengabdian para pendahulu. (*)





