
“Masjid bukan hanya bangunan yang megah, tapi tempat untuk membangun peradaban. Kami berharap di masjid inilah akan kembali dipakai sebagai tempat menuntut ilmu, menyelesaikan persoalan sosial kemasyarakatan, serta menjadi ruang interaksi dan wadah dalam menyiapkan generasi Qur’ani di masa depan,” ujar Munafri.
Salah satu hal yang menjadi perhatian Munafri adalah bagaimana menciptakan lingkungan masjid yang ramah terhadap anak. Ia meminta pengurus dan jamaah tidak langsung memarahi anak-anak yang bermain atau beraktivitas di area masjid.
Menurutnya, anak-anak perlu diperkenalkan dengan masjid sejak dini agar memiliki kedekatan dengan tempat ibadah. Sikap yang terlalu keras justru dikhawatirkan membuat mereka merasa takut dan enggan kembali ke masjid.
“Tolong kalau ada anak-anak kecil lari-lari di masjid jangan dimarahi. Kalau dimarahi, mereka akan trauma untuk datang. Sangat rugi kita kalau tidak ada lagi anak-anak yang mau datang ke masjid,” katanya.
Munafri menilai masjid yang ramah anak merupakan bagian dari upaya menyiapkan generasi masa depan. Karena itu, ruang ibadah diharapkan dapat menjadi tempat yang terbuka bagi berbagai aktivitas positif, termasuk pendidikan dan pembinaan anak.





