
Selain itu, BAZNAS bersama Pemkot Makassar juga menyiapkan program literasi filantropi bagi pelajar. Edukasi tidak hanya diberikan dalam bentuk teori, tetapi juga diarahkan pada pengalaman langsung dalam kegiatan sosial.
“Anak-anak sekolah harus diajarkan untuk mengembangkan filantropi. Mereka kita literasi, kita ajari bagaimana menjadi amil, bagaimana bertemu mustahik,” kata Saidah.
Program tersebut diharapkan dapat menanamkan kepedulian sosial sejak dini sekaligus memperkenalkan kepada generasi muda mengenai pengelolaan zakat dan aktivitas filantropi.
BAZNAS juga berencana melibatkan perguruan tinggi di Makassar untuk mengkaji konsep Kota Filantropi melalui forum akademik. Dengan demikian, gerakan tersebut tidak hanya dibangun dari sisi kelembagaan, tetapi juga memiliki dukungan kajian dan perspektif akademis.
Sementara itu, Munafri menegaskan konsep Kota Filantropi harus diwujudkan dalam aksi nyata dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, kemajuan sebuah kota tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari kepedulian masyarakat terhadap kelompok yang membutuhkan.





