
Fatmawati juga menekankan bahwa peningkatan akses keuangan harus dibarengi dengan penguatan literasi. Menurutnya, masyarakat perlu memiliki pemahaman yang cukup agar dapat menggunakan produk dan layanan keuangan secara bijak sekaligus mampu mengenali berbagai risiko keuangan.
Selama pelaksanaan FIN EXPO, masyarakat dapat berinteraksi langsung dengan berbagai lembaga dan pelaku industri jasa keuangan melalui 28 booth yang diisi OJK, Bank Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), serta industri jasa keuangan di Sulawesi Selatan.
Berbagai informasi layanan tersedia, mulai dari perbankan, industri keuangan nonbank, pasar modal, layanan keuangan digital hingga pembiayaan. Pelaku usaha dan masyarakat juga dapat memperoleh informasi mengenai produk yang dapat mendukung kebutuhan ekonomi mereka.
Tak hanya menghadirkan pameran, FIN EXPO BIK 2026 diisi dengan sejumlah aktivitas edukatif dan interaktif. Materi yang diberikan mencakup pengelolaan keuangan, pemanfaatan produk jasa keuangan, hingga peningkatan kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal.
Capaian transaksi dan pembukaan akun yang tercatat selama kegiatan menunjukkan bahwa kampanye Bulan Inklusi Keuangan tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga mendorong masyarakat untuk benar-benar menggunakan produk dan layanan jasa keuangan.





