
“Kalau datang ke Makassar, jangan hanya datang kemudian pulang. Kita ingin kegiatan-kegiatan seperti ini memberikan dampak perputaran ekonomi kepada masyarakat,” katanya.
Munafri juga menyinggung pertumbuhan ekonomi Makassar yang meningkat dari 6,61 persen menjadi 7,04 persen. Ia menekankan, capaian tersebut harus diterjemahkan menjadi manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Jangan sampai pertumbuhan ini hanya berada di atas kertas. Kami terus melakukan berbagai kegiatan dan program untuk bisa memberikan dampak dan manfaat langsung kepada masyarakat,” tegasnya.
Atas dasar itu, Pemerintah Kota Makassar mendorong pendekatan pemerintahan yang tidak hanya berorientasi pada output, tetapi juga pada dampak atau impactful governance. Setiap program dan kebijakan diharapkan memiliki manfaat nyata bagi warga.
Dalam konteks penguatan ekonomi lokal, Munafri turut mencontohkan penggunaan batik Lontara sebagai pakaian kerja aparatur Pemkot Makassar setiap Kamis. Kebijakan tersebut dinilai dapat menciptakan permintaan terhadap produk lokal sekaligus membantu menggerakkan usaha masyarakat.
“Ini batik Lontara, kalau di hari Kamis, Pemerintah Kota Makassar harusnya kita pakai batik Lontara. Ini akan memberikan dampak langsung kepada para pelaku UMKM yang ada di Kota Makassar,” jelasnya.





