
“Contoh tersebut memperlihatkan bagaimana riset perguruan tinggi dapat berkontribusi terhadap kebutuhan publik dalam skala luas. Ilmu pengetahuan paling bernilai ketika digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata,” jelas Prof. JJ.
Lebih lanjut, Prof. JJ menambahkan, di kawasan timur Indonesia, Unhas terus berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu upaya yang dikembangkan adalah fasilitas pengolahan sampah organik berbasis maggot di lingkungan kampus melalui kerja sama Indonesia–Inggris.
Pengolahan tersebut memanfaatkan maggot atau larva lalat tentara hitam untuk mengurai sampah organik. Larva dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak, sedangkan sisa pengolahannya berpotensi digunakan sebagai kompos.
Pendekatan ini membuka peluang pemanfaatan limbah sekaligus menghadirkan nilai ekonomi dan ruang pembelajaran bagi mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi lingkungan dapat dikembangkan melalui penerapan ilmu yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Unhas ingin memperluas pendekatan serupa melalui riset dan inovasi lintas disiplin. Perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan pengetahuan yang dapat diterapkan, memberikan manfaat terukur, serta membantu menjawab persoalan di lingkungan sekitarnya. Dalam proses tersebut, alumni memiliki peran penting untuk menghubungkan kompetensi akademik dengan kebutuhan dunia kerja dan masyarakat.





