
Sedangkan prevelensi stunting di Makassar pada 2024 berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Makassar mencapai 25.6 persen, angka ini mengalami kenaikan sebanyak 7 poin dari hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023 yaitu sebanyak 18.4 persen.
Perbedaan prevelensi stunting berdasarkan hasil dari E-PPGBM dan SSGI atau SKI memang sering mengalami perbedaan yang jomplang, hal ini disebabkan oleh metode yang digunakan keduanya berbeda, meskipun jumlah anak yang di survei sama.
“Data survei Indonesia baik itu SSGI maupun SKI Itu selalu jomplang angkanya, inilah yang kadang-kadang oleh beberapa daerah itu mempermasalahkan kenapa bisa data survei itu tidak sama dengan E-PPGBM yang dilakukan semua wilayah”, kata Plt Kepala DPPKB, Syahruddin.
“Mestinya kalau dilihat dari pengukuran Itu mestinya sama karena orangnya sama tapi itu metode yang berbeda sehingga kita juga berkesimpulan bahwa Itu metodenya berbeda dari pengukurannya karena SKI kemarin itu dia menggunakan sampel”, sambung Syahruddin.
Walaupun prevelensi stunting berdasarkan SKI mengalami kenaikan, namun Makassar saat ini berada pada posisi angka stunting 3 terendah di Sulawesi Selatan, setelah Palopo 0.8 persen berada pada posisi pertama dan Bone 2.1 persen berada pada posisi kedua.





