

Namun meski telah lebih dari satu abad sejak RA Kartini menulis pemikirannya, tantangan bagi perempuan masih ada. Beberapa di antaranya adalah masalah pekerjaan, perlindungan hukum, dan juga ruang untuk mengambil keputusan.
Meskipun demikian, semangat Kartini tidak pernah padam. Ia hidup dalam diri setiap perempuan Indonesia, mulai dari pelajar yang menuntut ilmu hingga pekerja yang memberi dedikasi dalam profesinya.
“Kartini juga ada pada ibu rumah tangga yang mendidik generasi penerus bangsa dengan kelembutan. Kartini ada pada guru, aktivis, seniman, dan siapa pun yang membuka ruang bagi perempuan lainnya,” tutur Munafri mengutip amanat tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada kata “terlalu muda” atau “terlalu tua” untuk menyalakan semangat RA Kartini. Menurut Appi, tidak ada peran yang terlalu kecil untuk menciptakan perubahan.
Oleh karena itu, Appi mengajak semua pihak untuk terus menghidupkan semangat Kartini dengan belajar, berkarya, dan mengambil bagian dalam kemajuan bangsa.
“Mari bersama-sama membuka ruang partisipasi, menolak diskriminasi, dan memastikan setiap perempuan Indonesia tumbuh dan berkarya, apapun latar belakangnya,” lanjutnya.





