
Metode Keberlanjutan, yang fokus pada sembilan sektor inti jasa keuangan, menjadi tolok ukur kesinambungan program-program literasi dan inklusi yang telah berjalan.
Di sisi lain, Metode Cakupan DNKI memperluas горизонт dengan memasukkan sektor-sektor vital seperti BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, memberikan gambaran yang lebih holistik tentang lanskap keuangan Indonesia.
Hasilnya pun menarik. Jika dilihat dari Metode Keberlanjutan, kemajuan literasi dan inklusi tampak nyata. Namun, ketika lensa diperlebar melalui Metode Cakupan DNKI, potret inklusi keuangan menjadi lebih cerah, menyentuh angka 92,74 persen.

Kendati demikian, tantangan masih membentang di depan mata, terutama dalam literasi dan inklusi keuangan syariah yang masih berada di level 43,42 persen dan 13,41 persen.
Di balik angka-angka nasional, tersembunyi pula cerita tentang disparitas. Wilayah perkotaan tampak lebih maju dalam literasi dan inklusi dibandingkan perdesaan.
Kaum pria, secara umum, menunjukkan tingkat literasi yang lebih tinggi dibandingkan wanita. Namun, menariknya, tingkat inklusi antara keduanya relatif setara.





