
Ia menyoroti bahwa sampah dapur organik sebenarnya memiliki peluang tinggi untuk dimanfaatkan menjadi kompos dan pakan maggot. Dari hasil pengamatan, diketahui bahwa 40-50 kg sampah dapur per hari sudah berhasil dikelola menjadi pupuk kandang dan pakan budidaya maggot.
“Kalau ini dilakukan rutin dan konsisten, Untia bisa mendekati zero waste. Tapi ini butuh dukungan semua pihak masyarakat, kelurahan, kecamatan, dan dinas. Kita harus duduk bersama menyusun strategi,” tegasnya.
Menurutnya, pengelolaan maggot juga bisa ditingkatkan dengan menambahkan bahan campuran tinggi protein, sementara lalat mati dari budidaya tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media tanam. Hal ini sejalan dengan konsep “circular economy” yang ramah lingkungan dan berdaya guna.
Selain itu, Melinda juga mengusulkan agar sistem penjemputan sampah anorganik dan organik dipisahkan waktunya agar tidak tercampur kembali, serta menambah unit bank sampah untuk memperluas jangkauan partisipasi warga.
Ia menilai program ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga bisa diintegrasikan dengan sektor perikanan, pertanian, dan ketahanan pangan rumah tangga. “Urban farming bisa dikembangkan di area ini, mendukung konsep mandiri pangan dan ekonomi berbasis komunitas,” tambahnya.





