

“Pada tahun 2024, LSF menerbitkan 285 STLS untuk film nasional, melebihi film impor yang hanya 255. Jumlah penonton film Indonesia pun menembus angka 81 juta,” ungkap Kuat.
Kuat menekankan pentingnya pemahaman literasi penyensoran bagi pelaku perfilman, khususnya di daerah, seiring dengan berkembangnya komunitas dan sekolah-sekolah yang aktif dalam produksi film.
Ia juga menyoroti peran aplikasi e-SiAS sebagai solusi digital yang mampu menjangkau pelaku film di seluruh Indonesia.
“Dengan e-SiAS, proses sensor kini lebih cepat, efisien, dan bisa dilakukan sepenuhnya secara online. Ini adalah bentuk komitmen LSF untuk mempermudah akses tanpa mengurangi kualitas layanan,” tambahnya.
Dalam sesi diskusi, Widayat S. Noeswa selaku Ketua Subkomisi Dialog Penyensoran menjelaskan secara teknis keunggulan e-SiAS.
“Mulai dari bioskop, TV, hingga platform OTT, semua materi wajib disensor dan kini bisa dilakukan tanpa harus datang langsung ke Jakarta, dengan SOP maksimal 3 (tiga) hari kerja,” terangnya.
Sementara itu, Ishak Iskandar (Pata), sineas asal Makassar yang turut menjadi narasumber, menyambut baik kehadiran LSF di daerah.





