
Tidak hanya itu, Aliansi Mahasiswa Bersatu menggelar protes di kantor DPW tiga partai besar—NasDem, Golkar, dan PAN—menolak segala bentuk provokasi politik.
PMII Makassar menyerukan reformasi Polri dan DPR di depan Mapolda Sulsel serta Kantor Gubernur.
Aksi berbeda dilakukan DEMA Fakultas Saintek UIN Alauddin dengan mengadakan doa bersama di perempatan Sultan Alauddin–Pettarani sebagai solidaritas atas korban kerusuhan nasional.
Gelombang unjuk rasa ini tidak lepas dari dampak kasus meninggalnya Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang terlindas kendaraan taktis Brimob di Jakarta pada 28 Agustus lalu.
Peristiwa tersebut memicu protes nasional, meski Polri sudah menahan tujuh personel Brimob dan menyiarkan sidang etik mereka secara terbuka.
“Pemeriksaan terbuka adalah langkah awal, tapi masyarakat tentu menunggu hasil nyata, bukan sekadar tontonan,” ujar anggota Kompolnas, M Choirul Anam.
Untuk mengantisipasi kericuhan, aparat gabungan TNI-Polri menurunkan ribuan personel. Pemantauan langsung juga dilakukan Kodim 1422 Maros bersama Forkopimda Sulsel, terutama setelah insiden kebakaran Gedung DPRD Makassar beberapa hari sebelumnya.





