
“Menjadi agen perubahan berarti kita tidak hanya mengingatkan orang lain, tapi juga mempraktikkan hidup bersih dan sehat dalam keluarga. Dari keluarga, kebiasaan itu bisa menyebar ke masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan, menjaga kebersihan bukan hanya soal mengurangi tumpukan sampah, tetapi juga menciptakan lingkungan sehat yang menunjang kualitas hidup masyarakat.
Untuk itu, dalam kegiatan ini menghadirkan Fajar Harianto, Lurah Kelurahan Baru sekaligus penggiat komunitas Muliata (Mulai Olah Sampah Ta). Ia memaparkan klasifikasi sampah: organik, anorganik, dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
Fajar mengungkapkan, 52 persen sampah di Makassar berupa organik. Data itu merujuk pada penelitian di Pasar Terong tahun 2021. “Volume sampah harian kota diperkirakan 1.000–1.500 ton, dan sebagian besar organik. Padahal, sampah organik bisa diolah menjadi kompos bermanfaat,” jelasnya.
Ia juga memperkenalkan teknologi sederhana seperti komposter rumah tangga dan lubang biopori. Biopori, katanya, bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga menjaga resapan air tanah.
Selain itu, hadir pula Tjing Ming Nelly, Ketua International Nature Loving Association (INLA) Sulsel, yang menjelaskan pemanfaatan limbah organik menjadi eco enzym.





