
“Melalui UFRG Outreach 2026, Drosophila diposisikan sebagai mikroskop biologis yang mempercepat riset dan memperkuat kapasitas riset mahasiswa Indonesia,” kata Prof. Firzan.
Webinar ini juga menghadirkan Prof. Toshiyuki Takano dari Kyoto Drosophila Stock Center, Kyoto Institute of Technology, Jepang, yang membawakan materi “A Drosophila Resource at Kyoto Drosophila Stock Center to Study Human Diseases.”
Ia menekankan bahwa koleksi Drosophila memungkinkan kajian penyakit secara sistematis dan efisien, serta menjembatani pendekatan lintas disiplin dari genetika hingga pengembangan terapi.
Kyoto Drosophila Stock Center disebut sebagai infrastruktur ilmiah global yang mempercepat riset penyakit dan inovasi terapi.
Pada sesi lanjutan, Assoc. Prof. Karyn Johnson dari The University of Queensland memaparkan “Drosophila as a Model for Understanding Host–Virus Interactions.”
Ia menjelaskan pentingnya memahami interaksi inang dan virus dalam pengendalian penyakit infeksi, khususnya yang ditularkan melalui serangga.
“Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi jalur molekuler dan respons imun yang berperan dalam membatasi maupun memfasilitasi infeksi virus. Temuan-temuan dari penelitian berbasis Drosophila diharapkan dapat menjadi landasan penting dalam memahami proses serupa,” jelas Prof Karyn.





