
Menurut Darwin, masa depan pengelolaan limbah di Indonesia tidak hanya diuji pada teknologi, tetapi juga pada kesadaran manusia.
“Ini, kesadaran, kemauan, dan kreativitas masyarakat menjadi kunci utama dalam menjawab tantangan krisis lingkungan yang dihadapi saat ini,” jelasnya.
Ia memaparkan, proses pembuatan BBM dilakukan menggunakan instalasi sederhana berbasis drum besi dengan memanfaatkan oli bekas sebagai bahan pembakar.
Sampah plastik dimasak selama dua hingga tiga jam hingga menghasilkan cairan bahan bakar yang kemudian disuling.
“Sekitar 10 kilogram sampah plastik bisa menghasilkan satu liter bahan bakar,” tuturnya.
Darwin menambahkan, hasil pembakaran dapat menjadi solar, dan setelah proses penyulingan bisa mendekati bensin setara premium.
Penggunaan oli bekas dinilai membantu menjaga efisiensi proses, di mana satu liter oli dapat digunakan untuk pembakaran hingga dua jam.
Bahan baku yang digunakan berasal dari berbagai jenis sampah plastik rumah tangga, seperti botol bekas, plastik kresek, kemasan kerupuk, dan plastik lainnya.
Sampah diperoleh dengan meminta dari warga sekitar maupun memungut langsung di kanal dan lingkungan sekitar.





