Terbangun Pukul 3 Pagi? Bisa Jadi Itu Sisa Pola Tidur Leluhur Manusia

SOLUSIMEDIA.ID — Pernah terbangun pukul 3 pagi lalu bertanya-tanya apakah kualitas tidur Anda bermasalah? Menurut Darren Rhodes, dosen Psikologi Kognitif sekaligus Direktur Environmental Temporal Cognition Lab di Keele University, pengalaman tersebut justru sangat manusiawi.
Dalam tulisannya di The Conversation, Rhodes menjelaskan bahwa konsep tidur delapan jam tanpa terputus sebenarnya merupakan kebiasaan modern.
Secara historis dan evolusioner, manusia justru terbiasa tidur dalam dua sesi setiap malam, yang dikenal sebagai first sleep (tidur pertama) dan second sleep (tidur kedua).
Selama berabad-abad, masyarakat di Eropa, Afrika, hingga Asia tidur lebih awal setelah malam tiba, kemudian terbangun sekitar tengah malam sebelum kembali tidur hingga fajar. Jeda ini bukan waktu yang terbuang.
Banyak orang memanfaatkannya untuk berdoa, membaca, menulis, merenungkan mimpi, hingga bercengkerama pelan dengan keluarga.
Bahkan, karya sastra kuno dari Homer dan Virgil telah menyebut “jam yang mengakhiri tidur pertama”, menandakan pola tersebut lazim pada masa itu.
Mengapa Pola Ini Menghilang?
Perubahan besar terjadi dalam dua abad terakhir, terutama akibat kemunculan pencahayaan buatan.
Lampu minyak, lampu gas, hingga listrik membuat manusia terjaga lebih lama setelah matahari terbenam.
Cahaya terang di malam hari menekan produksi melatonin—hormon pemicu rasa kantuk—serta menggeser ritme sirkadian tubuh.
Revolusi Industri turut mendorong kebutuhan tidur dalam satu blok panjang agar selaras dengan jam kerja pabrik. Pada awal abad ke-20, tidur delapan jam tanpa terputus menjadi standar baru.
Menariknya, studi laboratorium yang mensimulasikan malam musim dingin panjang tanpa cahaya buatan menunjukkan peserta sering kembali ke pola dua sesi tidur.
Studi tahun 2017 pada komunitas pertanian di Madagaskar tanpa listrik juga menemukan pola serupa.
Cahaya, Waktu, dan Suasana Hati
Rhodes menegaskan bahwa cahaya tidak hanya mengatur jam biologis, tetapi juga memengaruhi persepsi waktu.
Cahaya pagi yang kaya spektrum biru membantu merangsang produksi kortisol dan menekan melatonin, sehingga penting bagi kestabilan ritme sirkadian.
Penelitian dari Environmental Temporal Cognition Lab menunjukkan bahwa adegan dengan pencahayaan redup terasa lebih lama dibanding adegan terang.
Efek ini lebih kuat pada individu dengan suasana hati rendah. Studi lain terhadap populasi Islandia dan keturunannya di Kanada pada 1993 bahkan menemukan tingkat gangguan afektif musiman (SAD) yang relatif rendah, diduga karena faktor adaptasi genetik.
Haruskah Khawatir Jika Terbangun?
Para klinisi tidur menyebut terbangun singkat di malam hari sebagai hal normal, terutama saat transisi fase tidur, termasuk menjelang fase REM yang berkaitan dengan mimpi. Yang lebih penting adalah respons terhadap kondisi tersebut.
Terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I) menyarankan bangun dari tempat tidur setelah sekitar 20 menit tidak bisa tidur, melakukan aktivitas ringan di bawah cahaya redup, lalu kembali saat rasa kantuk muncul.
Menutup jam dan berhenti menghitung waktu juga dianjurkan, karena kecemasan dapat membuat waktu terasa berjalan lebih lambat.
Kesimpulannya, terbangun di tengah malam belum tentu tanda gangguan. Bisa jadi, itu hanyalah jejak pola tidur leluhur yang masih tersimpan dalam tubuh manusia modern.
(*)





