
“Masjid bukan lagi hanya tempat ritual salat lima waktu, tetapi harus menjadi ruang interaksi masyarakat, termasuk dalam menyelesaikan persoalan sosial,” jelasnya.
Diketahui, kegiatan ini dihadiri sekitar 500 imam rawatib, dari total sekitar 1.300 imam yang tersebar di seluruh wilayah Kota Makassar.
Jumlah tersebut menunjukkan antusiasme yang tinggi, sekaligus menjadi catatan untuk keberlanjutan program serupa di masa mendatang.
Pria yang akrab disapa Appi itu menekankan, bahwa kualitas bacaan tetap menjadi syarat utama seorang imam. Namun, ia mengingatkan bahwa penunjukan imam tidak boleh hanya didasarkan pada faktor usia atau latar belakang tertentu, melainkan harus mengedepankan kompetensi.
“Imam itu bukan karena siapa yang paling tua atau karena faktor lain, tetapi karena kemampuan bacaannya yang baik dan benar,” saran Appi.
Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber kompeten di bidangnya. Kehadiran para pemateri ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang komprehensif kepada para peserta, baik dari sisi teori maupun praktik imamah.
Melalui coaching clinic ini, para imam tidak hanya mendapatkan penguatan dalam hal tata cara ibadah, tetapi juga wawasan yang lebih luas dalam menjalankan fungsi sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.





