
“Selain itu, suhu yang meningkat juga berpotensi memicu kebakaran lebih cepat, dan dampak kesehatan seperti ISPA, penyakit kulit, hingga gangguan pernapasan juga perlu diwaspadai,” paparnya.
Sebagai langkah mitigasi, BPBD bersama stakeholder terkait telah menyusun dokumen rencana kontinjensi (Renkon) untuk berbagai skenario bencana, termasuk kekeringan. Selain itu, lebih dari 1.000 unit tandon air disiapkan untuk didistribusikan secara bertahap kepada masyarakat terdampak.
Saat ini, BPBD telah memiliki stok awal sekitar 100 unit tandon yang mulai disalurkan berdasarkan skala prioritas di wilayah yang terdampak.
Upaya penanganan juga diperkuat melalui koordinasi lintas sektor, melibatkan berbagai pihak seperti BUMN, sektor swasta, serta lembaga filantropi seperti Baznas dan Dompet Dhuafa. Selain itu, instansi terkait seperti PDAM, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pemadam Kebakaran turut dilibatkan.
“Serta instansi terkait seperti PDAM, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pemadam Kebakaran, guna memastikan kesiapan lintas sektor dalam menghadapi dampak El Nino,” terang Fadli.
Ia juga menekankan pentingnya penetapan status tanggap darurat oleh pemerintah daerah sebagai langkah strategis untuk membuka akses pendanaan, baik dari Belanja Tidak Terduga (BTT), Dana Siap Pakai (DSP), maupun dukungan dari pemerintah pusat.





