
SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR — Upaya percepatan penurunan stunting di Kota Makassar terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Hal ini terlihat dalam pertemuan yang digelar di Kecamatan Makassar, Selasa (28/4/2026), yang melibatkan berbagai unsur pemerintahan dan pemangku kepentingan, termasuk perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Makassar.
Camat Makassar, Tri Sugiarto, S.STP., M.A.P., hadir bersama Sekretaris Camat Ismawaty Nur, perwakilan Bappeda Kota Makassar Rizti Nadirah, S.STP., M.A.P., Ketua Forum Kota Sehat (FKS) Kecamatan Makassar Syamsuddin, Kapolsek, Danramil, para lurah, serta seluruh kepala puskesmas se-Kecamatan Makassar.
Pertemuan tersebut difokuskan pada penguatan program penanggulangan stunting di wilayah Kecamatan Makassar sebagai bagian dari agenda prioritas Pemerintah Kota Makassar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Peran Bappeda Kota Makassar menjadi sorotan penting dalam forum ini. Sebagai instansi perencana pembangunan daerah, Bappeda dinilai memiliki fungsi strategis dalam memastikan program penanganan stunting berjalan terintegrasi, terarah, dan berbasis data. Keterlibatan Bappeda juga memastikan sinkronisasi program lintas sektor, mulai dari kesehatan, sanitasi, hingga intervensi sosial ekonomi masyarakat.
Secara nasional, penurunan stunting menjadi program prioritas pemerintah yang dilaksanakan secara konvergen dan melibatkan berbagai sektor. Program ini bahkan dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk menciptakan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Data terbaru menunjukkan tren positif. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional berhasil ditekan menjadi 19,8 persen. Capaian ini menjadi langkah penting menuju target penurunan lebih lanjut dalam beberapa tahun ke depan. Meski demikian, pemerintah masih menargetkan penurunan yang lebih signifikan hingga di bawah 20 persen, bahkan menuju angka ideal jangka panjang.
Organisasi kesehatan global juga menegaskan bahwa stunting merupakan salah satu masalah gizi kronis yang berdampak serius terhadap perkembangan anak, termasuk kemampuan kognitif, kesehatan jangka panjang, hingga produktivitas di masa depan. Oleh karena itu, intervensi yang terintegrasi dan berkelanjutan menjadi kunci utama.
Di tingkat daerah, kolaborasi seperti yang dilakukan di Kecamatan Makassar dinilai menjadi langkah konkret dalam mendukung target nasional tersebut. Sinergi antara pemerintah kecamatan, puskesmas, aparat keamanan, hingga peran strategis Bappeda menjadi fondasi penting dalam mempercepat penanganan stunting secara efektif.
Dengan penguatan koordinasi dan perencanaan yang matang, Pemerintah Kota Makassar optimistis mampu menekan angka stunting secara signifikan, sekaligus meningkatkan kualitas generasi masa depan yang sehat dan berdaya saing. (*)





