
“Makassar menunjukkan performa unggul, bahkan menjadi satu-satunya daerah di Sulawesi Selatan dengan predikat kinerja tinggi,” ungkap Ras.
Ia menambahkan, capaian tersebut menegaskan bahwa pemerintahan MULIA tidak hanya berfokus pada pelaksanaan program, tetapi juga pada hasil dan dampak nyata.
Keberhasilan ini juga dinilai tidak lepas dari pendekatan kepemimpinan kolaboratif yang melibatkan Forkopimda, perangkat daerah, pemangku kepentingan, hingga partisipasi aktif masyarakat.
“Dengan pendekatan ini, pembangunan menjadi gerakan bersama,” katanya.
Dari sisi sosial, berdasarkan data SETARA Institute tahun 2026, Makassar masuk dalam 10 besar kota paling toleran di Indonesia dengan peringkat ke-9, melonjak signifikan dari posisi ke-52 pada tahun sebelumnya.
Di tingkat internasional, Makassar juga menorehkan prestasi melalui program Revitalizing Informal Settlements and Their Environment (RISE) yang masuk lima besar dunia dalam ajang WRI Ross Center Prize for Cities di New York.
Capaian tersebut memperkuat optimisme publik bahwa dalam waktu singkat, fondasi kinerja pemerintahan telah terbangun kuat dan mengarah pada pembangunan yang lebih terukur, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi masyarakat. (*)





