
“Karena Musda ini dianggap sebagai momentum penting bagi perkembangan Partai Golkar di Sulawesi Selatan, maka faktor-faktor yang berkaitan dengan PDLT itu dikesampingkan terlebih dahulu melalui pemberian diskresi,” katanya.
Arief menambahkan, mekanisme diskresi bukan hal baru dalam dinamika internal Partai Golkar. Pada sejumlah Musda sebelumnya, kebijakan serupa juga pernah diberikan kepada lebih dari satu kandidat.
“Pemberian diskresi bisa memiliki banyak makna. Jangan langsung diartikan bahwa yang mendapatkan diskresi pasti akan terpilih,” ujarnya.
Di sisi lain, Arief menilai konstelasi dukungan di tingkat DPD II hingga kini masih menunjukkan kecenderungan mengarah kepada Munafri Arifuddin (Appi).
“Peluang Pak IAS tentu tetap ada, tetapi dari informasi yang berkembang, dukungan 22 DPD II saat ini mengarah kepada Pak Munafri Arifuddin. Itu menunjukkan peta dukungan di daerah relatif masih sama,” jelasnya.
Ia menilai IAS saat ini memperoleh dukungan dari tingkat pusat, termasuk Ketua Umum dan DPP Golkar. Namun, menurutnya, dukungan tersebut tidak serta-merta menentukan pilihan para pemilik suara di daerah.





