
Ia juga mengungkapkan bahwa Kecamatan Panakkukang telah memiliki modal yang cukup besar dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Saat ini tercatat sekitar 400 bank sampah dengan lebih dari 8.300 nasabah, didukung ratusan unit komposter, titik budidaya maggot, Teba, serta ribuan lubang biopori yang tersebar di berbagai wilayah.
Menurut Melinda, potensi tersebut perlu terus dioptimalkan agar setiap RW memiliki sistem pengelolaan sampah yang aktif dan mandiri.
“Saya berharap minimal setiap RW memiliki satu sistem pengelolaan sampah yang aktif. Hari ini kita juga menghadirkan berbagai kelas pelatihan agar masyarakat tidak hanya memahami teori, tetapi langsung memiliki keterampilan mengolah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” tuturnya.
Lebih lanjut, Melinda menjelaskan bahwa kolaborasi lintas perangkat daerah dalam program ini merupakan bagian dari penguatan ekonomi sirkular. Sampah organik yang diolah menjadi kompos atau pakan maggot dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung urban farming serta memperkuat ketahanan pangan keluarga.
“Ketika sampah bisa diolah menjadi kompos, dimanfaatkan untuk menanam sayur, lalu hasil panennya kembali dikonsumsi masyarakat, maka kita sedang membangun siklus yang saling menguatkan. Inilah semangat ekonomi sirkular yang ingin terus kita dorong di Makassar,” jelasnya.





