
Analis menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh dinamika pasar keuangan global, terutama ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve), perkembangan inflasi global, serta arus modal asing ke pasar negara berkembang.
Di sisi domestik, stabilitas fundamental ekonomi Indonesia, termasuk inflasi yang terjaga, kinerja ekspor, dan kebijakan moneter Bank Indonesia, tetap menjadi faktor penopang pergerakan nilai tukar rupiah.
Pelaku pasar juga mencermati perkembangan data ekonomi global dan sentimen geopolitik yang berpotensi memengaruhi permintaan terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Oleh karena itu, volatilitas nilai tukar diperkirakan masih akan mewarnai perdagangan dalam jangka pendek meskipun rupiah berhasil dibuka di zona penguatan pada awal pekan. (*)





