
“Jelajah Sampah bukan hanya tentang memungut sampah, tetapi bagaimana mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Kami ingin masyarakat memahami bahwa pengelolaan sampah dimulai dari rumah, melalui kebiasaan memilah dan mengolah sampah sebelum dibuang. Semakin banyak sampah yang selesai dikelola di tingkat rumah tangga, semakin sedikit beban yang masuk ke TPA,” ujar Helmy.
Ia menambahkan, pelaksanaan Jelajah Sampah di seluruh kecamatan diharapkan mampu menciptakan efek berantai, di mana setiap peserta dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
“Program ini kami laksanakan secara berkelanjutan di 15 kecamatan karena perubahan perilaku tidak bisa dibangun dalam satu kegiatan. Edukasi harus dilakukan secara konsisten dan melibatkan masyarakat secara langsung. Ketika kesadaran itu tumbuh di setiap rumah tangga, maka cita-cita Makassar sebagai kota yang bersih dan target Makassar Bebas Sampah 2029 akan semakin mudah diwujudkan,” tambahnya.
Pelaksanaan Jelajah Sampah 2026 juga menjadi bagian dari dukungan terhadap kampanye global Plastic Free July, yang mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta membangun kebiasaan mengelola sampah secara bertanggung jawab.





