
Meski demikian, perusahaan menghadapi tantangan berupa kenaikan harga energi global. Harga rata-rata HSFO meningkat sekitar 25 persen, diesel naik 40 persen, dan batu bara bertambah 12 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi tersebut dipengaruhi dinamika geopolitik yang masih berlangsung dan berdampak terhadap pasar energi dunia.
Di tengah tantangan tersebut, PT Vale tetap berhasil meningkatkan profitabilitas. EBITDA tumbuh 45 persen secara triwulanan menjadi AS$116 juta, sedangkan laba bersih naik 39 persen menjadi AS$61 juta dibandingkan AS$44 juta pada triwulan pertama 2026.
Selama periode tersebut, perusahaan juga merealisasikan belanja modal sekitar AS$116 juta untuk mendukung keberlanjutan operasi sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai proyek strategis. Hingga 30 Juni 2026, saldo kas dan setara kas tercatat sebesar AS$111 juta, mencerminkan tingginya aktivitas investasi yang sedang berlangsung.
Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, mengatakan perusahaan terus memperkuat perannya dalam mendukung hilirisasi industri nikel nasional.





