
Secara khusus, ia menyoroti tantangan pengelolaan sampah di Kecamatan Ujung Pandang yang merupakan pusat aktivitas Kota Makassar. Selain memiliki keterbatasan lahan untuk mengolah sampah organik, kawasan tersebut juga menjadi lokasi bagi sekitar 100 pelaku usaha hotel, restoran, dan kafe (Horeka) yang menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar setiap hari.
Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar solusi yang diterapkan sesuai dengan karakteristik wilayah.
“Kami bersama Pemerintah Kota, Dewan Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup, dan pemerintah kecamatan terus berkoordinasi mencari solusi terbaik. Setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda sehingga pendekatannya juga harus disesuaikan. Yang terpenting, semangat untuk berubah tidak boleh berhenti,” ungkapnya.
Dalam rangkaian kegiatan, peserta mengikuti berbagai kelas edukasi mengenai pengelolaan sampah melalui pembuatan biopori, eco-enzyme, budidaya maggot, serta pemanfaatan komposter sebagai solusi pengolahan sampah organik secara mandiri.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmi Budiman, menegaskan pemerintah kini memperkuat implementasi kebijakan pengelolaan sampah dengan mengubah pendekatan dari pendampingan menuju sistem pengawasan yang lebih tegas.





