Perbankan Sulsel Catat Pertumbuhan Positif, Intermediasi Berjalan Optimal Hingga Juni 2026

SOLUSIMEDIA.ID,MAKASSAR– Kinerja industri perbankan di Sulawesi Selatan hingga posisi Juni 2026 menunjukkan tren positif di tengah dinamika perekonomian. Hal ini tercermin dari pertumbuhan aset, Dana Pihak Ketiga (DPK), dan penyaluran kredit yang masih berada pada jalur ekspansi.
Kepala Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat – Moch. Muchlasin saat media briefing menyampaikan secara tahunan (year-on-year/yoy), total aset perbankan di Sulawesi Selatan tumbuh 5,99 persen, sementara penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,71 persen, dan penyaluran kredit tumbuh 5,27 persen. Pertumbuhan ini tentunya mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan yang mash tetap terjaga sekaligus menunjukkan fungsi intermediasi perbankan yang terus berjalan secara optimal.
Untuk penyaluran kredit produktif di Sulawesi Selatan hingga Juni 2026 masih terkonsentrasi di Kota Makassar. Kondisi ini mencerminkan peran Kota Makassar sebagai pusat kegiatan ekonomi, perdagangan, jasa, dan investasi di Sulawesi Selatan, sehingga menjadi wilayah dengan permintaan pembiayaan usaha yang relatif lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya.
Dari 24 kabupaten dan kota di Provinsi Sulawesi Selatan, per Juni 2026, Makassar menempati peringkat teratas untuk penyaluran kredit yang mencapai Rp83,4 triliun disusul Palopo untuk periode yang sama sebesar Rp10,4 triliun, dan Bone sebesar Rp6,2 triliun.
”Makassar masih menjadi tempat penyaluran kredit produktif terbesar di Sulawesi Selatan. Mungkin ada juga di kabupaten dan kota lain di Sulawesi Selatan. Hanya saat pengajuan kredit, kantornya berada di Makassar. Jadi mereka mengajukan permohonan kredit melalui kantor perbankan di Makassar,” Ujar Muchlasin.
Dari sisi intermediasi, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 117,71 persen, mengindikasikan tingginya penyaluran kredit dibandingkan dana yang berhasil dihimpun. Meski demikian, kondisi tersebut masih diimbangi dengan kualitas kredit yang tetap terkendali. Hal ini terlihat dari rasio Non-Performing Loan (NPL) yang berada pada level 3,70 persen, mencerminkan risiko kredit yang masih dapat dikelola dengan baik oleh industri perbankan.
Berdasarkan komposisi Dana Pihak Ketiga, tabungan masih menjadi sumber dana utama masyarakat dengan nilai mencapai Rp92,03 triliun atau 61,45 persen dari total DPK. Selanjutnya, deposito tercatat sebesar Rp33,96 triliun dengan pangsa 22,68 persen, sedangkan giro mencapai Rp23,77 triliun atau 15,87 persen.
Sementara itu, berdasarkan tujuan penggunaannya, penyaluran kredit masih didominasi oleh kredit produktif yang mencapai Rp91,89 triliun atau 52,28 persen dari total kredit. Adapun kredit konsumsi tercatat sebesar Rp82,50 triliun dengan pangsa 47,72 persen. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa sektor perbankan tetap berperan dalam mendukung aktivitas ekonomi produktif, di samping memenuhi kebutuhan pembiayaan konsumsi masyarakat.
Secara keseluruhan, perkembangan perbankan Sulawesi Selatan hingga Juni 2026 menunjukkan kondisi yang tetap solid. Pertumbuhan aset, penghimpunan dana masyarakat, serta penyaluran kredit yang konsisten, disertai kualitas kredit yang masih terjaga, menjadi indikator bahwa sektor perbankan memiliki ketahanan yang baik dan terus berkontribusi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.(*)





