
Kesenjangan juga terlihat berdasarkan tingkat pendidikan. Semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi pula tingkat literasi dan inklusi keuangan. Literasi masyarakat yang menamatkan perguruan tinggi mencapai 93,46 persen, sementara kelompok yang tidak atau belum pernah sekolah atau tidak tamat SD hanya 45,23 persen. Untuk inklusi keuangan, masing-masing mencapai 99,49 persen dan 85,80 persen.
Berdasarkan usia, kelompok 26–35 tahun mencatat indeks literasi tertinggi sebesar 78,70 persen dan inklusi sebesar 96,27 persen. Sebaliknya, kelompok usia 15–17 tahun memiliki literasi sebesar 56,04 persen. Dari sisi pekerjaan, kelompok pensiunan/purnawirawan, pegawai/profesional, serta pengusaha/wiraswasta mencatat tingkat literasi dan inklusi relatif tinggi, sedangkan petani, nelayan, pelajar/mahasiswa, serta masyarakat yang belum bekerja masih berada di bawah rata-rata nasional.
Secara regional, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan indeks literasi keuangan tertinggi sebesar 84,01 persen, disusul Kalimantan Selatan 79,69 persen dan Bali 78,77 persen. Untuk inklusi keuangan, DKI Jakarta berada di posisi teratas dengan 99,74 persen, diikuti DI Yogyakarta 98,74 persen dan Kepulauan Riau 98,43 persen.





