
Dicky menegaskan, peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah merupakan tanggung jawab bersama. Industri keuangan syariah, kata dia, harus terus berkembang tidak hanya dari sisi skala, tetapi juga mampu menghadirkan layanan berkualitas dengan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
“Industri keuangan harus tumbuh. Tapi tumbuh dengan manfaat yang makin meluas. Tumbuh dengan kualitas,” tegasnya.
Ia menjelaskan, EKSiS diharapkan menjadi jembatan bagi masyarakat dari sekadar mengetahui menuju pemahaman, kemudian mampu menentukan pilihan, hingga memiliki keyakinan untuk menggunakan produk keuangan syariah yang berkualitas. Pemanfaatan tersebut diharapkan turut mendukung kesejahteraan masyarakat, pertumbuhan ekonomi riil, serta keberlanjutan lingkungan.
Pentingnya penguatan literasi dan inklusi semakin terlihat dari hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026. Dalam survei tersebut, indeks literasi keuangan syariah tercatat sebesar 43,07 persen, sementara indeks inklusi keuangan syariah berada di angka 13,24 persen.
Anggota Komisi XI DPR RI, Anis Byarwati, menilai keuangan syariah perlu ditempatkan sebagai bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan ekonomi masyarakat. Industri ini dinilai dapat berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja, mendorong UMKM naik kelas, membuka peluang usaha, serta meningkatkan kapasitas generasi muda menjadi wirausahawan.





