
Imat menegaskan, konsep tersebut bukan untuk mengambil alih pasar atau menciptakan persaingan dengan pelaku industri kreatif lokal. Sebaliknya, talenta Makassar dapat diberi akses untuk mengerjakan kebutuhan industri internasional tanpa harus meninggalkan daerah.
“Jadi, Creative Outsourcing Center bukan berarti kita buka studio di sini kemudian bersaing dengan orang kreatif di sini. Justru talenta yang ada di sini kita hubungkan dengan kebutuhan di luar,” jelasnya.
Ia melihat perguruan tinggi di Makassar sebagai salah satu sumber talenta yang dapat dikembangkan untuk memperkuat industri kreatif berorientasi global.
Adapun Makassar Hub diarahkan menjadi pintu masuk bagi produk dan jasa lokal untuk memperluas pasar ke luar negeri.
Pelaku UMKM yang produknya telah memenuhi standar ekspor dinilai dapat memanfaatkan jejaring internasional yang tersedia. Produk yang ditawarkan pun tidak harus selalu berskala besar. Produk rumah tangga maupun komoditas kecil tetap memiliki peluang selama memenuhi standar kualitas dan memiliki pasar.
“Kalau punya barang yang sudah ekspor approved, quality export, kasih ke saya. Kami bisa perkenalkan,” ujarnya.





