
“Program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat kami karena membantu mencarikan pemasaran komoditi pala kami ke pedagang besar eksportir-importir di kampung kami. Kami tidak bergantung lagi dengan pedagang lokal, di mana harga pala kami dibeli rendah. Semoga dengan pedagang eksportir/importir bisa memperoleh harga yang lebih tinggi lagi,” ujar Marten.
Petani lainnya, Ahir Samahe, juga merasakan manfaat dari pelatihan DigiFarm. Menurutnya, sistem tersebut memberi kesempatan bagi petani untuk memperkenalkan data hasil produksi kepada calon pembeli dari luar daerah.
“Kami sangat berterima kasih atas program yang dilakukan oleh Tim Ekspedisi Patriot 20 Universitas Hasanuddin. Kami sangat terbantu, bisa berbagi data hasil produksi kami kepada pedagang luar. Tentu kami berharap memperoleh harga yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Bagi kader DigiFarm dari Kampung Saharey, Fitri Yani Arbakala, penggunaan teknologi untuk mencatat hasil produksi menjadi pengalaman baru.
Ia mengaku baru pertama kali melakukan pencatatan produksi secara digital menggunakan telepon seluler.
“Kegiatan pencatatan secara digital ini pertama kali saya lakukan. Saya terkesan sekali karena bisa menginput data ke dalam HP. Saya berharap data dan informasi yang kami input ke dalam sistem Agromaritim-Hub ini bisa dilihat oleh pedagang besar. Kami berharap harga pala kami dihargai lebih tinggi,” jelas Fitri.





