
“Dengan area greenhouse ini, kita tidak tergantung dengan cuaca. Ini benar-benar dilakukan untuk memastikan bahwa kebun ini bisa dijalankan atau bisa dibuat di mana saja. Yang penting intinya fokus dan kemauannya ada,” katanya.
Ia menegaskan, keberhasilan urban farming tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan fasilitas, tetapi juga konsistensi dalam merawat dan mengembangkan tanaman.
“Kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Ini perlu kita terus edukasi. Memang harus dirawat semuanya,” tegasnya.
Air Wudu dan Biopori Dimanfaatkan
Hal lain yang mendapat perhatian Appi adalah konsep pertanian terintegrasi yang diterapkan di kawasan tersebut.
Air bekas wudu dari masjid dikelola untuk dimanfaatkan kembali sebagai sumber penyiraman tanaman. Sementara kebutuhan pupuk didukung bahan organik yang dihasilkan melalui pengelolaan biopori.
“Yang paling menarik adalah pola terintegrasi yang dilakukan ini. Hasil limbah buangan dari air wudu dikelola untuk kembali menyiram tanaman-tanaman yang ada,” tuturnya.
“Pupuk-pupuk yang dipergunakan juga pupuk organik yang datang dari biopori mereka,” lanjut Appi.
Selain pertanian, kawasan tersebut juga mulai mengembangkan sektor peternakan. Pengembangan tersebut diharapkan semakin memperkuat konsep pertanian terintegrasi yang diterapkan.





