
SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi menilai urban farming Masjid Bin Baz di kawasan Bukit Baruga layak menjadi contoh pengembangan pertanian perkotaan yang produktif dan terintegrasi dengan lingkungan.
Hal itu disampaikan Appi saat menghadiri panen melon di kawasan tersebut, Jumat (4/9/2026). Tidak hanya meninjau proses budidaya, Appi juga ikut memetik langsung melon yang ditanam di dalam greenhouse.
Menurutnya, pengelolaan urban farming di kawasan tersebut menunjukkan bahwa lahan terbatas di perkotaan tetap dapat dimanfaatkan secara produktif. Terlebih, berbagai jenis tanaman seperti melon dan anggur dikembangkan dalam satu kawasan.
“Kita melihat prosesnya dan melihat hasilnya urban farming. Artinya, dalam rentang waktu beberapa bulan banyak sekali hal yang bisa disisipkan, sehingga ada siklus yang tidak berhenti dari setiap bulannya,” ujar Appi.
Greenhouse Bantu Jaga Produktivitas
Appi menilai penggunaan greenhouse menjadi salah satu keunggulan dalam pengembangan kebun tersebut. Sistem ini membuat budidaya tanaman tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca.
“Dengan area greenhouse ini, kita tidak tergantung dengan cuaca. Ini benar-benar dilakukan untuk memastikan bahwa kebun ini bisa dijalankan atau bisa dibuat di mana saja. Yang penting intinya fokus dan kemauannya ada,” katanya.
Ia menegaskan, keberhasilan urban farming tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan fasilitas, tetapi juga konsistensi dalam merawat dan mengembangkan tanaman.
“Kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Ini perlu kita terus edukasi. Memang harus dirawat semuanya,” tegasnya.
Air Wudu dan Biopori Dimanfaatkan
Hal lain yang mendapat perhatian Appi adalah konsep pertanian terintegrasi yang diterapkan di kawasan tersebut.
Air bekas wudu dari masjid dikelola untuk dimanfaatkan kembali sebagai sumber penyiraman tanaman. Sementara kebutuhan pupuk didukung bahan organik yang dihasilkan melalui pengelolaan biopori.
“Yang paling menarik adalah pola terintegrasi yang dilakukan ini. Hasil limbah buangan dari air wudu dikelola untuk kembali menyiram tanaman-tanaman yang ada,” tuturnya.
“Pupuk-pupuk yang dipergunakan juga pupuk organik yang datang dari biopori mereka,” lanjut Appi.
Selain pertanian, kawasan tersebut juga mulai mengembangkan sektor peternakan. Pengembangan tersebut diharapkan semakin memperkuat konsep pertanian terintegrasi yang diterapkan.
Jadi Salah Satu Urban Farming Terbesar
Appi menyebut urban farming di kawasan Masjid Bin Baz sebagai salah satu yang paling sukses di Makassar sejauh ini, terutama dari sisi luasan dan kompleksitas pengelolaannya.
“Dengan luasan yang lebih besar. Ada yang sudah melakukan, tapi tidak sebesar ini dan tidak sekompleks ini,” ujarnya.
Pemkot Makassar, kata Appi, masih melihat sejumlah peluang untuk meningkatkan produktivitas kawasan tersebut. Beberapa di antaranya melalui pemenuhan kebutuhan pupuk, pengembangan maggot, serta peningkatan fasilitas dan infrastruktur pendukung.
“Banyak sekali, masih banyak. Sebenarnya masih banyak sekali untuk memastikan peningkatan produktivitas hasil dari pertaniannya. Pupuknya harus diperhatikan, ada mungkin maggot yang harus ditambah, fasilitas, infrastruktur, dan sebagainya,” pungkasnya.
Appi berharap konsep urban farming yang menggabungkan pertanian, pengelolaan limbah, dan pemanfaatan sumber daya lingkungan tersebut dapat dikembangkan sebagai model percontohan di wilayah lain.
“Ini akan kita jadikan bentuk percontohan bagaimana zona urban farming yang terintegrasi dengan lingkungan yang ada,” jelasnya. (*)





