
Munafri meminta setiap sekolah menyediakan tempat sampah berdasarkan jenisnya, yakni organik, anorganik, dan residu. Para siswa juga didorong untuk membiasakan diri memilah sampah dalam aktivitas sehari-hari.
Menurutnya, kebiasaan tersebut perlu ditanamkan sejak dini agar dapat terbawa hingga anak-anak kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Kalau anak-anak ini sudah dididik dari sekolah, insyaallah dalam kehidupan sehari-harinya ini akan berjalan dan menular dengan baik,” tuturnya.
Selain sampah anorganik yang diarahkan ke bank sampah, Munafri juga mendorong sekolah mengembangkan pengolahan sampah organik dengan berbagai metode, seperti biopori, teba, maupun eco-enzyme.
Hasil pengolahan sampah organik tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan urban farming di lingkungan sekolah.
“Nah, ini nanti akan dipakai untuk membuat yang namanya urban farming di sekolah,” katanya.
Munafri juga membuka peluang agar pengelolaan sampah organik di sekolah melibatkan masyarakat sekitar. Sampah organik dari rumah warga maupun daun yang dikumpulkan petugas kebersihan dapat diarahkan untuk mendukung proses pengolahan.





