
“Jadi kami punya model ekosistem yang kami coba bangun, bagaimana mengelola sampah ini diintegrasikan dengan faktor-faktor yang lainnya,” katanya.
Dalam skema tersebut, Unhas mengambil peran dari sisi hulu hingga hilir. Pada tahap awal, Unhas menyiapkan baby maggot atau bibit maggot yang kemudian dibesarkan oleh kelompok masyarakat yang akan dibina Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Setelah mencapai tahap panen, maggot tersebut akan kembali dikelola Unhas untuk diolah menjadi bahan pakan. Unhas juga akan membantu dari sisi pemasaran sehingga masyarakat memiliki jalur pemanfaatan hasil budidayanya.
“Kami menawarkan Pak Wali bagaimana kalau ini dibikin ekosistemnya. Unhas menyiapkan pengolahannya, pengelolaan dan pemasaran maggotnya, pengolahannya sampai menjadi pakan, dan juga menyiapkan baby maggot,” jelasnya.
Menurut Syahdar, pola tersebut penting agar masyarakat tidak hanya diberi pengetahuan mengenai cara membudidayakan maggot, tetapi juga mendapatkan dukungan bibit dan kepastian pemanfaatan hasil produksi.
“Jangan orang bikin maggot semua, ternyata tidak ada yang beli. Pas mau dilanjutkan, tidak ada lagi tersedia bibitnya dan segala macam,” ungkapnya.





