
Menurut Fadli, dukungan dari berbagai pihak menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kelangsungan penanganan kekeringan di Makassar.
“Untuk penanganan kondisi kekeringan di Kota Makassar, sesuai dengan status tanggap darurat, kami terus mendapatkan dukungan untuk melanjutkan kegiatan ini,” ujarnya.
Selain menjaga kesinambungan distribusi, BPBD Makassar juga mengubah pola penyaluran agar lebih efisien. Jika sebelumnya warga harus mengantre sambil membawa jeriken untuk mendapatkan air dari mobil tangki, kini tandon air ditempatkan di sejumlah wilayah terdampak berdasarkan hasil asesmen lapangan.
Skema ini memungkinkan masyarakat mengambil air secara mandiri tanpa harus menunggu pengisian satu per satu dari mobil tangki. Di sisi lain, armada distribusi dapat kembali mengisi persediaan lebih cepat sehingga jangkauan pelayanan menjadi lebih luas.
“Dengan adanya tandon di lokasi-lokasi terdampak yang menjadi tempat berkumpul masyarakat, efektivitas penyaluran meningkat,” tutur Fadli.
Perubahan pola distribusi tersebut turut meningkatkan frekuensi pengisian air oleh armada. Mobil tangki yang sebelumnya hanya mampu kembali sekitar dua kali sehari kini dapat melakukan pengisian dua hingga tiga kali dalam sehari.





