
“Tujuan saya ke BMKG untuk memantau kondisi cuaca sekaligus mendapatkan informasi terkini mengenai kualitas udara, kita butuh solusi,” katanya.
Ia menegaskan, pemerintah perlu berfokus pada langkah penanganan yang konkret, bukan sekadar membahas penyebab munculnya kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di luar wilayah Makassar.
“Ini menyangkut kesehatan masyarakat, sehingga tidak lagi bicara sebab dan akibat asap, tetapi solusi apa kita lakukan. Nah, ini menjadi bagian dari langkah strategis kami dalam merespons kabut asap yang menyelimuti Makassar,” sambung Appi.
Berdasarkan informasi yang diterimanya saat kunjungan tersebut, kondisi kabut asap disebut relatif menurun dibandingkan sebelumnya. Meski demikian, Munafri menegaskan bahwa pemantauan kualitas udara tetap diperlukan untuk memastikan perkembangan situasi dan menentukan respons pemerintah.
“Menurut BMKG, kondisinya sudah relatif menurun. Karena ini asap kiriman, tapi kita perlu terus memantau perkembangannya agar langkah yang dilakukan sesuai dengan kondisi di lapangan,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, Munafri juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar. Aktivitas pembakaran terbuka berpotensi menambah polusi dan memperburuk kualitas udara, terutama ketika kabut asap masih menyelimuti kawasan perkotaan.





