MakassarNews

Pemkot Makassar Gandeng Indocement Olah Sampah Jadi RDF, Fasilitas di Maros Berkapasitas 800 Ton per Hari

SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar menjajaki penguatan kerja sama pengelolaan sampah dengan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (ITP) melalui pemanfaatan teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara.

Rencana tersebut dibahas dalam audiensi jajaran direksi Indocement bersama Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, di Kantor Balai Kota Makassar, Rabu (4/11/2026). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut nota kesepahaman (MoU) terkait pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.

Presiden Direktur PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, Christian Kartawijaya, menyampaikan kesiapan perusahaan untuk mendukung pengelolaan sampah Makassar melalui fasilitas pengolahan RDF yang telah disiapkan di kawasan pabrik Semen Bosowa Maros.

Christian menjelaskan, proses pengolahan dilakukan melalui pemilahan, pencacahan, hingga pemadatan sampah agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif dalam proses produksi semen.

Menurutnya, fasilitas Alternative Fuel Facility di kawasan pabrik Maros memiliki kapasitas produksi hingga 800 ton RDF per hari. Kapasitas tersebut setara dengan pengolahan sekitar 2.000 hingga 2.500 ton sampah mentah setiap harinya.

BACA JUGA  Rakornas MBG-TBC: Pemkot Makassar Siap Jalankan Arahan Pusat

Selain menangani sampah baru, kerja sama ini juga diarahkan untuk mengolah timbunan sampah lama di TPA Tamangapa melalui metode landfill mining atau penggalian dan pemrosesan kembali sampah yang telah tertimbun.

Christian mengatakan, pihaknya telah menyiapkan fasilitas tersebut untuk mendukung implementasi kerja sama dengan Pemkot Makassar.

Ia menambahkan, pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar alternatif bukan hal baru bagi Indocement. Perusahaan juga telah menggunakan berbagai jenis limbah lain, seperti sekam padi, bonggol jagung, hingga ban bekas sebagai substitusi batu bara dalam kegiatan produksi.

Meski fasilitas pengolahan di Maros telah tersedia, implementasi kerja sama tetap membutuhkan pembangunan infrastruktur pendukung. Tahapan persiapan tersebut diperkirakan memerlukan waktu sekitar satu tahun atau lebih.

Setelah sampah melalui proses pengolahan hingga memenuhi spesifikasi sebagai bahan bakar alternatif, Indocement berencana membeli RDF yang dihasilkan. Skema ini diharapkan dapat menciptakan nilai ekonomi dari pengelolaan sampah sekaligus membuka peluang kerja sama berkelanjutan.

BACA JUGA  Buka Kegiatan Musrenbang Tingkat Kecamatan Tamalate, Plh Sekda Makassar Tekankan Partisipasi dan Dampak Positif bagi Masyarakat

Di sisi lain, Pemkot Makassar terus mengembangkan sejumlah alternatif untuk mengatasi persoalan persampahan. Selain skema Waste-to-Energy (WTE) yang mengolah sampah menjadi energi listrik, pemerintah kota juga mendorong Waste-to-Fuel melalui produksi RDF.

Kombinasi kedua teknologi tersebut diharapkan dapat memperluas kapasitas pengolahan sampah, terutama untuk menangani sisa timbulan yang belum terserap melalui skema pembangkit listrik.

Melalui kolaborasi dengan Indocement, Pemkot Makassar berharap pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih terintegrasi, mulai dari penanganan timbunan lama hingga pemanfaatan sampah harian menjadi sumber energi alternatif.

Kerja sama ini sekaligus membuka peluang penerapan ekonomi sirkular yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan volume sampah, tetapi juga menghasilkan manfaat ekonomi dan mendukung industri yang lebih ramah lingkungan. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button