
Selain itu, Appi menekankan kebutuhan masyarakat, khususnya anak muda, terhadap “ruang ketiga” (third place), ruang alternatif di luar rumah dan kantor/sekolah yang dapat menjadi tempat berinteraksi, berekspresi, sekaligus mengembangkan kreativitas.
“Anak-anak muda sekarang butuh ruang ketiga. Makassar harus menyiapkan ruang yang bisa menjadi wadah berkumpul, berdiskusi, sekaligus mengembangkan diri. Ini bagian dari pembangunan kota yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ketua DPD II Golkar Kota Makassar itu, juga menuturkan, keterbatasan infrastruktur olahraga di Makassar. Menurutnya, sulitnya menemukan fasilitas olahraga representatif membuat Makassar, kehilangan kesempatan menjadi tuan rumah berbagai event besar, termasuk olahraga internasional.
“Kami pernah mencoba mendatangkan grup basket internasional, tapi terkendala karena tidak ada gedung olahraga yang memadai. Begitu juga dengan sepak bola,” tuturnya.
“PSM Makassar setiap tahun ikut turnamen internasional, tetapi tidak pernah bisa menjadikan Makassar sebagai tuan rumah karena stadion kita belum representatif,” tambah dia.
Ia menambahkan, pembangunan stadion modern tidak hanya soal olahraga, melainkan juga membawa dampak ekonomi dan memperkuat citra Makassar di mata dunia.





