
“Saat ini Pemkot Makassar telah mewajibkan penggunaan batik lontara setiap hari Kamis. Namun, produksi perajin lokal masih terbatas sehingga banyak pegawai memakai batik print yang dibuat di Jawa. Kondisi ini diharapkan berubah ketika lebih banyak perajin lokal mampu memproduksi batik lontara secara konsisten,” ujarnya.
Melinda berharap setelah pelatihan ini, Pemkot dapat lebih tegas mendorong penggunaan batik lontara hasil kriya perajin Makassar di lingkungan pemerintah kota. Hal ini sekaligus membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi kreatif daerah.
Pelatihan ini menjadi langkah konkret untuk menghidupkan kembali kecintaan masyarakat terhadap aksara Lontara sekaligus mencetak perajin batik lontara yang lebih kreatif dan inovatif.
(*)





