
Dalam perspektif moral, kemiskinan juga berkaitan dengan melemahnya empati dan solidaritas sosial.
“Rapuhnya nilai sosial dan memudarnya kohesi sosial dalam masyarakat, semakin memberi tekanan terhadap upaya pengentasan kemiskinan. Dalam konteks tersebut, diperlukan berbagai structural adjustment agar strategi, kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan dapat memberikan hasil yang lebih efektif,” jelas Prof Agussalim.
Dalam ranah kebijakan, ia mengusulkan tujuh langkah simultan, antara lain penguatan paradigma pembangunan, perubahan cara pandang terhadap kemiskinan, pergeseran pendekatan metodologis, pembaruan desain perencanaan, perubahan pola penanganan, perluasan akses, serta penguatan kelembagaan dan tata kelola.
Selanjutnya, Prof. Dr. Madris, S.E., D.P.S., M.Si., memaparkan penelitian berjudul “Integrasi Pasar Output, Pasar Tenaga Kerja, dan Pengembangan Mutu Human Capital dalam Mereduksi Angka Pengangguran di Indonesia”. Ia menjelaskan bahwa permintaan tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh permintaan output di pasar.
Dalam perspektif ketenagakerjaan, Prof Madris menyoroti kelompok usia 15–18 tahun sebagai tenaga kerja muda yang mulai atau terpaksa memasuki pasar kerja.





