
Persoalan utama yang dihadapi adalah rendahnya keterampilan, minimnya pengalaman kerja, serta ketidaksesuaian latar belakang pendidikan dengan kebutuhan pasar (mismatch).
“Sebagai salah satu alternatif jalan keluar untuk menanggulangi masalah tersebut, kehadiran kegiatan ekonomi non formal serta usaha perseorangan, terutama di perkotaan menjadi sangat penting fungsinya sebagai penyerap tenaga kerja yang lebih fleksibel,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa bonus demografi akan menjadi modal pembangunan jika didukung mutu human capital yang baik, namun berpotensi menjadi petaka bila kesempatan kerja tidak tersedia.
Karena itu, perencanaan ketenagakerjaan harus melihat sisi permintaan dan penawaran tenaga kerja secara seimbang.
Guru besar berikutnya, Prof. Dr. Muhammad Ismail, S.E., M.Si., membahas “FOMO sebagai Paradigma Baru dalam Perilaku Konsumen Generasi Z”.
Ia menjelaskan bahwa fenomena fear of missing out (FOMO) pada Generasi Z di Indonesia bersifat kolektif, normatif, dan sangat dipengaruhi komunitas digital.
“Fomo bukan sekedar variabel tambahan dalam model perilaku konsumen, melainkan kerangka penjelas baru yang membantu kita memahami mengapa keputusan pembelian menjadi semakin cepat, mengapa loyalitas merek menjadi semakin rapuh,” jelas Prof Ismail.





