
“Saya miris karena sebagian besar anak jalanan dan gepeng itu perempuan. Ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa penanganannya harus lintas sektor dan dilakukan secara kolektif,” ujarnya.
Fatmawati juga menyoroti persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masalah sosial tersebut.
Menurutnya, anak yang putus sekolah atau tidak pernah mengenyam pendidikan berpotensi besar terdorong ke jalanan jika tidak segera ditangani secara sistematis.
“Kita harus jujur melihat fakta. ATS ini bukan sekadar data, tapi masa depan anak-anak kita. Kalau tidak kita intervensi sekarang, maka masalah sosial ini akan terus berulang,” kata Wagub perempuan pertama di Sulawesi Selatan itu.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, Abd Malik Faisal, menyampaikan bahwa faktor utama munculnya anak jalanan dan gepeng adalah kemiskinan struktural. Ia memaparkan, terdapat sedikitnya 1.024 anak jalanan dan gepeng yang terkonsentrasi di lima daerah, yakni Makassar, Parepare, Palopo, Gowa, dan Maros.
Ia mengapresiasi langkah Wakil Gubernur Sulsel yang menginisiasi pertemuan lintas sektor tersebut, terlebih menjelang bulan suci Ramadan yang biasanya diiringi peningkatan jumlah anak jalanan di kawasan perkotaan.





