SOLUSIMEDIA.ID — Seorang imam senior Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur menyatakan bahwa otoritas Israel melarangnya memasuki kompleks masjid beberapa hari sebelum dimulainya bulan suci Ramadan. Imam tersebut, Muhammad al-Abbasi, mengaku tidak menerima penjelasan mengenai alasan pelarangan yang mulai berlaku sejak Senin (16/2). "Saya telah dilarang masuk masjid selama satu minggu, dan perintah tersebut dapat diperpanjang," ujar Syekh Muhammad al-Abbasi seperti diberitakan AFP pada Selasa (17/2). "Saya baru saja kembali ke Al-Aqsa sebulan lalu setelah menghabiskan satu tahun di rumah sakit akibat kecelakaan mobil yang parah," tambah Abbasi. "Larangan ini adalah masalah serius bagi kami, karena jiwa kami terikat pada Al-Aqsa. Al-Aqsa adalah hidup kami." Bulan Ramadan dijadwalkan dimulai pekan ini. Selama periode tersebut, ratusan ribu warga Palestina biasanya memadati kompleks Al-Aqsa untuk melaksanakan salat. Masjid ini merupakan situs tersuci ketiga dalam Islam yang berada di Yerusalem Timur. Pada Senin (16/2), polisi Israel menyatakan telah merekomendasikan penerbitan 10.000 izin bagi warga Palestina dari Tepi Barat yang diduduki untuk memasuki Yerusalem. Warga Palestina dari wilayah tersebut memang memerlukan izin khusus untuk dapat mengakses kota tersebut. Namun, pihak Kegubernuran Yerusalem Palestina menyebutkan bahwa izin kemungkinan akan dibatasi bagi pria berusia di atas 55 tahun dan perempuan di atas 50 tahun, mengikuti kriteria yang diterapkan pada tahun sebelumnya. Selain pembatasan izin, otoritas Israel juga dilaporkan menghambat badan Wakaf Islam—lembaga yang dikelola Yordania dan bertanggung jawab atas pengelolaan situs tersebut—dalam melakukan persiapan rutin menjelang Ramadan. Persiapan tersebut mencakup pemasangan peneduh serta penyediaan klinik medis sementara. Sumber dari pihak Wakaf menyatakan bahwa 33 pegawainya turut dilarang memasuki kompleks Al-Aqsa pada pekan menjelang Ramadan. Berdasarkan kesepakatan yang telah lama berlaku, umat Yahudi diperbolehkan mengunjungi kompleks Al-Aqsa, namun tidak diizinkan untuk melaksanakan ibadah di lokasi tersebut. Pemerintah Israel menyatakan tetap berkomitmen menjaga status quo. Meski demikian, warga Palestina menyampaikan kekhawatiran bahwa aturan tersebut mulai tergerus, terutama setelah beberapa politisi sayap kanan Israel dilaporkan berdoa di area tersebut dalam beberapa tahun terakhir. (*)