
SOLUSIMEDIA.ID — Salah satu tanda paling mudah dikenali dari stroke adalah perubahan pada wajah, seperti mulut tiba-tiba mencong atau salah satu sisi wajah tampak turun.
Gejala sederhana ini kerap diabaikan, padahal bisa menjadi sinyal awal seseorang sedang mengalami serangan stroke.
Seperti dikutip dari Kompas.com, dr. Bambang Tri Prasetyo, Sp.N dari RS Pondok Indah, Pondok Indah, Jakarta, menjelaskan bahwa stroke dapat diidentifikasi dari perubahan pada wajah.
“Pada kasus-kasus stroke bisa diidentifikasi dari daerah wajah, contoh pasien mulutnya mencong atau tertarik, banyak mengeluarkan air liur, atau matanya tidak bisa melirik ke samping atau melihat dengan jelas. Jika ada kecurigaan stroke harus segera diperiksa ke rumah sakit,” jelas dr. Bambang dalam wawancara terbatas melalui Zoom.
Gejala Stroke Lainnya
Selain perubahan pada wajah, gejala stroke juga dapat berupa:
- Kelemahan pada satu sisi tubuh
- Mati rasa
- Kesulitan berbicara atau melihat
- Sakit kepala hebat
- Mual dan muntah
- Bicara kacau atau pelo
Jika terdapat kecurigaan stroke, dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan untuk menentukan jenis stroke, apakah akibat perdarahan atau sumbatan pembuluh darah di otak.
“Biasanya akan dilakukan CT-scan, tujuannya untuk melihat atau menilai jaringan otak ada perdarahan atau tidak. Kalau tidak ada perdarahan, dicurigainya stroke sumbatan,” tutur dr. Bambang.
Apabila fasilitas rumah sakit memadai, pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan MRI atau MRA kepala untuk memberikan gambaran lebih detail mengenai luasnya sumbatan.
Menurut dr. Bambang, meski gejala terlihat ringan, seperti hanya bicara pelo atau lemah di satu sisi tubuh namun masih bisa berjalan, kondisi tersebut belum tentu tergolong stroke ringan.
“Mungkin dia hanya pelo atau lemah di satu sisi tubuh dan masih bisa jalan, tapi kalau foto CT Scan/MRI menunjukkan sumbatan luas maka tak bisa dibilang ringan, pasti berat,” ujarnya.
Golden Period 4,5 Jam
Pemberian terapi disesuaikan dengan jenis stroke serta durasi waktu sejak gejala pertama muncul. Dokter mengingatkan agar pasien segera dibawa ke rumah sakit dan tidak menunda penanganan.
Idealnya, pasien mendapatkan penanganan kurang dari 4,5 jam setelah gejala muncul.
“Jadi ada step-stepnya, kalau kurang dari 4.5 jam obat apa, sedangkan kalau sudah 4.5–24 jam setelah muncul gejala pertama, penanganannya beda lagi,” jelasnya.
Semakin cepat penanganan dilakukan, semakin besar peluang mencegah kecacatan permanen maupun risiko kematian.
Pentingnya Pencegahan
Pencegahan stroke harus dimulai dengan mengendalikan faktor risiko seperti hipertensi, obesitas, diabetes, pola makan tidak sehat, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, serta kurangnya aktivitas fisik.
Data Riset Kesehatan Dasar di Indonesia menunjukkan bahwa faktor risiko stroke masih tergolong tinggi di masyarakat.
Karena itu, mengenali gejala awal dan bertindak cepat menjadi kunci menyelamatkan nyawa.
(*)





