Terbangun Pukul 3 Pagi? Bisa Jadi Itu Sisa Pola Tidur Leluhur Manusia

Lampu minyak, lampu gas, hingga listrik membuat manusia terjaga lebih lama setelah matahari terbenam.
Cahaya terang di malam hari menekan produksi melatonin—hormon pemicu rasa kantuk—serta menggeser ritme sirkadian tubuh.
Revolusi Industri turut mendorong kebutuhan tidur dalam satu blok panjang agar selaras dengan jam kerja pabrik. Pada awal abad ke-20, tidur delapan jam tanpa terputus menjadi standar baru.
Menariknya, studi laboratorium yang mensimulasikan malam musim dingin panjang tanpa cahaya buatan menunjukkan peserta sering kembali ke pola dua sesi tidur.
Studi tahun 2017 pada komunitas pertanian di Madagaskar tanpa listrik juga menemukan pola serupa.
Cahaya, Waktu, dan Suasana Hati
Rhodes menegaskan bahwa cahaya tidak hanya mengatur jam biologis, tetapi juga memengaruhi persepsi waktu.
Cahaya pagi yang kaya spektrum biru membantu merangsang produksi kortisol dan menekan melatonin, sehingga penting bagi kestabilan ritme sirkadian.
Penelitian dari Environmental Temporal Cognition Lab menunjukkan bahwa adegan dengan pencahayaan redup terasa lebih lama dibanding adegan terang.
Efek ini lebih kuat pada individu dengan suasana hati rendah. Studi lain terhadap populasi Islandia dan keturunannya di Kanada pada 1993 bahkan menemukan tingkat gangguan afektif musiman (SAD) yang relatif rendah, diduga karena faktor adaptasi genetik.





